Persiapan ketahanan fisik menjadi krusial bagi calon jemaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andi Kurniawan Sp.KO, mengimbau agar calon jemaah mempersiapkan kondisi tubuh secara optimal. Imbauan ini didasari oleh rangkaian aktivitas fisik yang intens selama ibadah haji, sebagaimana dilansir dari Cahaya.
Calon jemaah haji diperkirakan akan menempuh perjalanan kaki sejauh 5 hingga 15 kilometer setiap hari. Kondisi ini diperparah dengan suhu ekstrem di lokasi ibadah. Oleh karena itu, latihan fisik sejak dini dianggap sangat penting untuk menjamin kelancaran dan kekhusyukan ibadah.
Andi merekomendasikan latihan aerobik seperti jalan cepat. Latihan ini sebaiknya dilakukan selama 30 hingga 60 menit, sebanyak 3 sampai 5 kali dalam seminggu. Idealnya, program latihan ini dimulai tiga bulan sebelum jadwal keberangkatan.
"Ibadah haji membutuhkan ketahanan fisik luar biasa. Jamaah diperkirakan berjalan kaki antara 5 hingga 15 kilometer per hari dalam suhu yang ekstrem. Untuk itu, beberapa latihan perlu dilakukan," kata lulusan Universitas Indonesia itu kepada Antara, Kamis (10/4/2026).
Manfaat utama latihan aerobik adalah peningkatan penyerapan oksigen oleh tubuh, yang esensial untuk produksi energi. Selain itu, latihan ini juga berperan penting dalam menguatkan ketahanan kardiovaskular, termasuk jantung.
Latihan Kekuatan Otot Kaki untuk Mobilitas
Selain aerobik, dr. Andi juga menyarankan latihan kekuatan yang difokuskan pada otot tungkai bawah. Tujuannya adalah untuk melenturkan lutut dan pergelangan kaki, sehingga tubuh lebih siap menghadapi tuntutan fisik selama haji, seperti saat tawaf dan sa'i.
Penguatan otot paha depan, paha belakang, serta betis sangat diperlukan untuk menopang tubuh dengan baik. "Latihan seperti squat atau lunges sangat membantu," tambah dr. Andi.
Simulasi Ibadah dan Perhatian Asupan
Adaptasi fisik juga dapat ditingkatkan melalui simulasi prosesi ibadah. Calon jemaah dianjurkan untuk berjalan kaki menggunakan alas kaki yang sama dengan yang akan digunakan saat berhaji. Hal ini membantu mencegah lecet dan mempercepat adaptasi biomekanik tubuh terhadap kondisi lapangan yang sebenarnya.
Asupan cairan juga menjadi perhatian penting selama beribadah. Andi menekankan agar jemaah tidak menunggu rasa haus datang. "Jangan menunggu haus. Suhu tinggi meningkatkan risiko dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi metabolik. Targetkan minum 200–300 ml setiap jam saat beraktivitas," ujarnya.
Selain cairan, konsumsi makanan dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan gandum juga disarankan untuk energi. Asupan protein dibutuhkan untuk pemulihan otot. Sementara itu, jemaah disarankan membatasi makanan pedas atau berminyak guna mencegah gangguan pencernaan.
Pengaturan Aktivitas di Tanah Suci
Setibanya di Tanah Suci, pengaturan aktivitas menjadi kunci. Di luar kegiatan ibadah inti, jemaah disarankan untuk menghemat energi. Beristirahat di tempat yang sejuk akan membantu menghindari kelelahan akibat suhu panas yang ekstrem selama pelaksanaan ibadah haji.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·