Sebuah pesawat nirawak pengintai canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), MQ-4C Triton, dilaporkan hilang di kawasan Selat Hormuz. Insiden ini terjadi sesaat setelah drone mengirimkan sinyal darurat dalam penerbangan pada Jumat, 10 April 2026, menurut laporan NDTV yang dikutip dari Kompas.com.
Pesawat tanpa awak dengan estimasi harga mencapai 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,5 triliun ini mendadak hilang dari sistem radar. Belum ada kepastian mengenai penyebab hilangnya drone, apakah akibat kendala teknis atau ditembak jatuh.
Insiden hilangnya MQ-4C Triton ini terjadi dua hari setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada Rabu, 8 April 2026. Data pelacakan penerbangan dari Flightradar24 menunjukkan bahwa drone tersebut sempat berbelok sedikit ke arah wilayah Iran sebelum memancarkan kode darurat 7700.
Sebelum hilang sepenuhnya dari sistem pelacakan, drone yang sedang dalam perjalanan kembali menuju pangkalan di Naval Air Station Sigonella, Italia, ini terpantau kehilangan ketinggian secara drastis. Sebuah laporan lain dari Airspace Review, yang diterbitkan pada 9 April 2026, menyebutkan insiden serupa terjadi pada 22 Februari 2026 di Teluk Persia, melibatkan drone dengan nomor registrasi 169660 dan callsign OVRLD1.
Drone ini dilaporkan terbang di ketinggian 32.900 kaki (sekitar 10.000 meter) di ruang udara internasional saat insiden 22 Februari 2026. Kode 7700 yang dipancarkan merupakan sinyal standar internasional untuk kondisi darurat atau kegagalan teknis pada pesawat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pentagon atau militer AS mengenai nasib akhir drone-drone tersebut. Para pakar militer dan analis keamanan melontarkan spekulasi mengenai penyebabnya, termasuk kemungkinan kegagalan teknis, gangguan perang elektronik (EW) seperti jamming atau spoofing sinyal, hingga serangan fisik.
MQ-4C Triton bukanlah drone biasa. Dengan investasi lebih dari 200 juta dollar AS per unit, pesawat nirawak ini merupakan pilar utama Komando Pusat AS (Centcom) untuk pengintaian strategis jangka panjang di wilayah Teluk.
Dirancang untuk operasi pengintaian maritim skala besar secara terus-menerus, Triton sering beroperasi sebagai 'mata' di ketinggian untuk pesawat patroli P-8A Poseidon. Drone ini juga merupakan satu-satunya pesawat maritim otonom kategori High Altitude Long Endurance (HALE) yang mampu beroperasi di atas 50.000 kaki.
Dengan kemampuan terbang selama lebih dari 24 jam dan jangkauan mencapai 7.400 mil laut, MQ-4C Triton adalah aset vital. Sampai tahun 2025, Angkatan Laut AS telah mengoperasikan 20 unit MQ-4C Triton dan berencana menambah tujuh unit lagi di masa mendatang. Kehilangan satu unit platform canggih ini merupakan kerugian signifikan bagi kemampuan pengawasan AS di kawasan yang sedang tegang.
Spekulasi di Balik Insiden
Mengingat lokasi hilangnya drone yang dekat dengan wilayah Iran, spekulasi mengenai serangan fisik oleh Iran mencuat. Iran memiliki sejarah menjatuhkan drone AS di masa lalu, termasuk RQ-4 Global Hawk pada tahun 2019, seperti dilaporkan The War Zone. Meskipun demikian, belum ada bukti konkret yang mengonfirmasi adanya serangan dalam insiden terbaru ini.
Perlu dicatat bahwa insiden hilangnya drone MQ-4C Triton pada 22 Februari 2026 terjadi sebelum Perang AS-Israel versus Iran pecah pada 28 Februari 2026. Walaupun demikian, Angkatan Laut AS dilaporkan tetap melanjutkan operasi pengintaian di kawasan Teluk dengan menerbangkan unit Triton lainnya hanya beberapa hari setelah kejadian.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·