Pada 19 Maret lalu, Iran dilaporkan berhasil menembak jatuh jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat (AS). Insiden tersebut, yang memungkinkan pesawat untuk mendarat darurat di pangkalan militer AS di Timur Tengah, memunculkan pertanyaan tentang kemampuan siluman F-35 yang selama ini dianggap superior.
Peristiwa ini menjadi sorotan global lantaran Iran berhasil membuktikan bahwa jet tempur generasi kelima yang diproduksi secara massal dan telah dipesan oleh 19 negara itu tidak tak terkalahkan. Keberhasilan ini terjadi meskipun Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebagian besar aset pertahanan udara Iran telah hancur.
Di tengah keraguan para analis, konsensus yang berkembang di kalangan ahli pertahanan dan keamanan adalah bahwa rudal yang digunakan Iran untuk menargetkan F-35 adalah Product 358. Senjata ini adalah perpaduan unik antara rudal permukaan-ke-udara (SAM) tradisional dan amunisi jelajah.
Product 358, juga dikenal sebagai rudal 358 atau SA-67, merupakan rudal permukaan-ke-udara (SAM) yang dikembangkan oleh Iran. Rudal ini dirancang sebagai penangkal berbiaya rendah, terutama untuk menghadapi kendaraan udara tak berawak (UAV/drone), helikopter, dan ancaman udara lain yang terbang rendah atau lambat.
Senjata ini sering digambarkan sebagai sistem hibrida, sebagian rudal dan sebagian lagi amunisi "kamikaze" atau amunisi jelajah. Beberapa ahli bahkan menyebutnya sebagai sistem "pertahanan udara berbasis drone". Rudal ini diluncurkan menggunakan pendorong roket berbahan bakar padat yang kemudian terpisah setelah habis terbakar.
Dalam fase jelajah, Product 358 ditenagai oleh mesin turbojet kecil. Rudal ini dilengkapi dengan pencari inframerah (IR)/elektro-optik untuk pelacakan akhir target. Sistem pasifnya membuat rudal ini tidak memancarkan sinyal radar, sehingga lebih sulit dideteksi oleh target melalui penerima peringatan radar.
Dr. Can Kasapoğlu, Senior Fellow di Hudson Institute, mengidentifikasi amunisi jelajah 358 sebagai "penyebab alami" serangan terhadap F-35. Ia menyoroti kemampuan pencari inframerah pasifnya yang mengunci panas mesin pada jarak dekat tanpa memancarkan sinyal radar, sehingga mampu melewati sistem peringatan radar F-35.
Rudal MANPADS Misagh-2: Ancaman Lain dari Iran
Terlepas dari insiden F-35, Iran juga memiliki sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) yang mematikan, seperti Misagh-2. Rudal panggul domestik ini menjadi tulang punggung pertahanan titik Teheran, terutama setelah operasi ekstraksi awak jet tempur F-15E di wilayah Iran beberapa waktu lalu yang dilaporkan berlangsung dramatis.
Misagh-2 merupakan penerus Misagh-1 yang dikembangkan berdasarkan teknologi Cina, khususnya diyakini sebagai salinan langsung dari MANPADS QW-1M. Kemampuannya sering disandingkan dengan performa rudal legendaris Uni Soviet, SA-18 Grouse (9k38 Igla).
Rudal ini diresmikan produksi massalnya oleh Menteri Pertahanan Iran pada Februari 2006 di bawah naungan Shahid Shah Abhady Industrial Complex. Iran bahkan pernah mengundang berbagai negara untuk menyaksikan uji coba langsung penggunaan Misagh-2 di lapangan.
Sebagai rudal MANPADS, Misagh-2 dirancang untuk mobilitas ekstrem dan dapat beroperasi di suhu -40 °C hingga +60 °C, membuatnya andal di berbagai medan. Kekuatan utamanya terletak pada kecepatan dan waktu reaksi.
Misagh-2 dapat menembus Mach 2.8 saat mendekati target dan diklaim mampu menghancurkan target dalam waktu 5 detik setelah diluncurkan. Unit baterainya dipasang sejajar (parallel) dengan tabung peluncur, membedakannya dari Misagh-1 yang terpasang tegak lurus (perpendicular).
Rudal ini menggunakan teknologi All-Aspect Infrared Seeker yang mampu membedakan antara panas mesin pesawat dengan gangguan flare (umpan panas). Dengan hulu ledak High Explosive Fragmentation (HE-FRAG) seberat 1,42 kg, satu hantaman cukup merobek struktur badan pesawat.
Doktrin saturasi Iran, di mana satu target dikunci oleh banyak operator MANPADS sekaligus, meningkatkan probabilitas kehancuran target secara drastis, bahkan terhadap pesawat dengan sistem elektronik mutakhir. Dapur pacu Misagh-2 mengandalkan solid rocket motor yang mampu mendorong rudal hingga kecepatan maksimal 850 m/s atau setara Mach 2.8.
Performa mesin ini memberikan jangkauan operasional hingga 6 kilometer dengan ketinggian cegat mencapai 5 kilometer, membuat pesawat yang terbang rendah maupun menengah berada dalam zona bahaya. Dengan sistem pemandu Infrared (IR) Fire and Forget, operator hanya perlu mengunci target, lalu rudal akan bekerja mandiri.
Industri pertahanan Iran terus mengembangkan keluarga Misagh. Setidaknya ada tiga varian utama: Misagh-1 (varian awal berbasis QW-1 Cina), Misagh-2 (fokus pada peningkatan kecepatan dan seeker), dan Misagh-3 (diperkenalkan sekitar tahun 2017 dengan teknologi sensor laser pada sumbu ledaknya untuk akurasi terhadap target yang bermanuver tajam).
Kehadiran Misagh-2 dalam jumlah masif membuktikan bahwa dalam perang modern, ancaman paling mematikan bagi pilot tempur tidak selalu datang dari jet siluman, melainkan dari prajurit infanteri yang bersembunyi dengan rudal panggul yang harganya jauh lebih murah dibandingkan pesawat yang dijatuhkannya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·