PBNU Apresiasi Negara Teluk Tahan Diri Hadapi Serangan Iran

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyampaikan apresiasi atas tindakan negara-negara Teluk yang memilih menahan diri dan tidak membalas serangan dari Iran. Sikap ini muncul di tengah ketegangan yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Yahya menganggap keputusan tersebut sebagai bentuk komitmen kuat terhadap stabilitas regional, serta upaya nyata untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta pada Jumat, 10 April 2026, seperti dilansir dari Cahaya.

Menurutnya, langkah menahan diri itu justru menunjukkan tanggung jawab besar dalam menjaga perdamaian internasional. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan komunikasi langsung dengan para duta besar negara-negara terkait, sikap tersebut diambil meskipun beberapa negara Teluk sempat menerima serangan dari Iran.

"Walaupun negara-negara tersebut mendapatkan serangan juga dari Iran, mereka tetap tidak membalas. Ini sangat kami apresiasi," tegas Yahya.

Lebih lanjut, Yahya menuturkan bahwa negara-negara Teluk juga mengambil sikap tegas dengan menolak penggunaan wilayah mereka sebagai basis militer untuk menyerang Iran. Penolakan ini dinyatakan secara eksplisit oleh para duta besar negara-negara Teluk dan Kerajaan Yordania.

Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal penting bahwa negara-negara di kawasan itu lebih memprioritaskan stabilitas dibanding memperluas konflik bersenjata. Dalam pandangannya, konflik di Timur Tengah memiliki dampak global yang tidak bisa dihindari oleh negara mana pun, termasuk Indonesia.

"Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang dan kekerasan di mana saja, apapun alasannya, itu adalah bencana kemanusiaan yang harus kita cegah dan harus kita upayakan dihentikannya sesegera mungkin," ungkapnya.

Dampak Global dan Pendekatan Diplomasi

Yahya juga menyoroti dampak besar konflik terhadap sektor energi dunia, terutama jalur distribusi strategis yang terdampak ketegangan geopolitik. Ia menyebut Selat Hormuz sebagai contoh bagaimana pengaruhnya dapat terasa di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan tidak ada yang bisa menghindarinya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa seluruh negara yang terlibat dalam konflik merupakan mitra strategis Indonesia. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil harus mengedepankan persahabatan dan keseimbangan. "Iran jelas negara sahabat, Saudi negara sahabat, Emirat negara sahabat. Oleh karena itu kita harus menempatkan diri sebagai sahabat bagi semua," tuturnya.

PBNU, lanjut Yahya, akan terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog internasional. Ia juga menyambut baik adanya upaya gencatan senjata yang mulai muncul, meskipun sifatnya masih sementara.

Konsolidasi Dalam Negeri Menghadapi Dampak Global

Di sisi lain, Yahya mengingatkan tentang pentingnya konsolidasi di dalam negeri untuk menghadapi dampak global dari konflik tersebut. "Tidak ada yang bisa menghindar dari dampak ini. Semua negara terdampak dan semuanya bertanggung jawab untuk mengelola dan mengatasi dampak-dampak dari peperangan itu," ujarnya.

PBNU sendiri, kata dia, sedang menginisiasi penguatan ketahanan sosial masyarakat atau societal resilience. Program ini bertujuan agar masyarakat mampu menghadapi tekanan ekonomi dan sosial akibat dinamika global. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas dan menghindari provokasi politik di tengah situasi global yang tidak menentu.

"Kita harus bertahan bersama, kita harus survive bersama. Tidak mungkin ada yang bisa selamat sendirian," kata Yahya. Ia kembali menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari konflik adalah melalui dialog damai dan kesepakatan diplomatik yang adil. "Semua kekerasan ini harus berhenti dan perbedaan kepentingan harus diselesaikan melalui perundingan damai dan jalan diplomatik," pungkasnya.