PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) memastikan kesiapan penuh dalam memberikan perlindungan asuransi bagi dua kapal tanker milik Pertamina. Kedua kapal tersebut saat ini masih berada di Selat Hormuz akibat gejolak konflik geopolitik yang terjadi di kawasan tersebut, seperti dilansir dari Money.
Adi Pramana, Presiden Direktur Tugu Insurance, menyatakan bahwa sebagai bagian integral dari grup Pertamina, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketahanan energi nasional. "Tentunya kami mem-provide asuransi terhadap kapal tersebut," ujar Adi dalam acara Media Meet Up Tugu Insurance pada Jumat (10/4/2026).
Ia juga menambahkan bahwa Tugu Insurance terus menjalin koordinasi intensif dengan Pertamina untuk memantau kondisi dan situasi terkini kapal-kapal yang berada di wilayah Teluk Persia. Harapan besar disampaikan agar kapal-kapal tersebut dapat segera kembali ke Indonesia.
Menurut Adi, kondisi geopolitik yang ditandai dengan peperangan telah meningkatkan tingkat risiko secara signifikan. Oleh karena itu, perusahaan melakukan penyesuaian premi asuransi untuk memastikan bahwa proteksi dapat berjalan dengan optimal.
"Kami usahakan bahwa kami benar-benar support. Jadi ya sudah kami full effort lah untuk membawa kapal-kapal itu kembali ke Indonesia," imbuhnya. Nilai pertanggungan untuk kapal Pertamina yang berada di Timur Tengah tersebut diperkirakan mencapai triliunan rupiah secara total.
Adi menjelaskan, perlindungan asuransi muatan (marine cargo) di dalam kapal memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan perlindungan asuransi untuk badan kapal itu sendiri (marine hull). Asuransi marine cargo berfokus pada isi kapal, sementara marine hull mengasuransikan kapalnya sendiri.
Perbedaan lainnya terletak pada periode pembayaran premi. Premi asuransi marine hull umumnya dibayarkan setiap tahun, sedangkan premi marine cargo biasanya dihitung per perjalanan atau trip.
Adi Pramana menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada klaim yang diajukan atau dibayarkan terkait kapal Pertamina tersebut. "Jadi kita support dengan baik lah, supaya ketahanan energi ini terjamin," ucapnya.
Fadlil Iswahyudi, Direktur Teknik PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, menguatkan komitmen pihaknya untuk mendukung Pertamina dalam meminimalkan risiko keterlambatan atau kegagalan kapal dan muatannya untuk kembali ke Tanah Air. "Memang sampai saat ini, pintu Selat Hormuz sempat dibuka, eh ada bom, ditutup lagi sekarang. Sampai sekarang masih ada di Teluk Persia, mudah-mudahan (Selat Hormuz) segera dibuka kembali," terang Fadlil.
Keterlambatan pengiriman pada dasarnya bukanlah risiko yang termasuk dalam cakupan asuransi. Asuransi kapal kargo ini lebih melindungi dari risiko seperti serangan yang salah sasaran atau serangan drone perang. "Artinya torpedo nyasar seperti di kapal Thailand, itu kerusakannya akan diganti," tutup Fadlil.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, melalui Juru Bicara Vahd Nabyl, terus berupaya agar dua kapal tanker minyak milik Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz di tengah situasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. "Intinya kami mengupayakan agar kapal Pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz," ujar Vahd dalam konferensi pers di kantor Kemlu pada Rabu (8/4/2026).
Dua kapal yang dimaksud adalah Pertamina Pride dan MT Gamsunoro. Selain fokus pada jalur pelayaran, Kemlu juga memperhatikan aspek teknis lainnya, termasuk keselamatan para kru yang bertugas di kapal-kapal tersebut.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·